01 April 2026 /
56 Viewers

Perjalanan Salsa Mewujudkan Sekolah Aman bagi Anak di Morotai

Keresahan terhadap masih maraknya praktik perundungan di lingkungan sekolah menjadi titik awal perjalanan Salsa dalam mengambil peran sebagai fasilitator daerah Tim Perlindungan Anak Sekolah (Tim PAS) KREASI Morotai. Bagi Salsa, sekolah seharusnya menjadi ruang aman bagi setiap anak tempat belajar tanpa rasa takut, tanpa tekanan, dan tanpa kekerasan dalam bentuk apa pun. Namun, realitas yang ia temui di lapangan menunjukkan bahwa bentuk-bentuk kekerasan nonfisik, seperti ejekan dan candaan yang merendahkan, masih kerap terjadi dan bahkan dianggap hal biasa.

Sebagai guru di tingkat Madrasah Ibtidaiyah, Salsa menyaksikan langsung bagaimana praktik perundungan sering kali berawal dari hal-hal sederhana yang dinormalisasi oleh anak-anak. Ejekan terhadap fisik, latar belakang keluarga, hingga candaan yang menyakitkan menjadi fenomena yang berulang. Meski belum ditemukan kasus kekerasan fisik di sekolahnya, Salsa melihat kondisi ini sebagai tanda awal yang tidak boleh diabaikan. Ia meyakini bahwa pembiaran terhadap perilaku tersebut justru membuka ruang bagi tumbuhnya kekerasan yang lebih besar di kemudian hari.

Kesadaran inilah yang mendorong Salsa untuk terlibat lebih jauh melalui perannya sebagai fasilitator daerah Tim PAS KREASI Morotai. Ia melihat peran ini bukan sekadar tanggung jawab tambahan, tetapi sebagai ruang belajar sekaligus kontribusi nyata untuk menciptakan perubahan. Melalui peran tersebut, Salsa ingin memperkuat pemahaman guru dan warga sekolah tentang isu kekerasan, pelecehan, dan perundungan, sekaligus mendorong penerapan pendekatan disiplin positif dalam pembinaan anak.

Salsa juga menyadari bahwa perubahan tidak dapat terjadi secara instan. Setiap anak memiliki karakter yang berbeda, dan kebiasaan yang telah lama dianggap wajar membutuhkan proses panjang untuk diubah. Karena itu, ia aktif berdiskusi dan berkolaborasi dengan guru lain, khususnya yang tergabung dalam Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK), untuk membangun pendekatan yang lebih reflektif dan konsisten dalam menangani perilaku anak.

Menjadi fasilitator daerah Tim PAS menjadi langkah awal bagi Salsa untuk memperluas dampak, tidak hanya di sekolahnya sendiri, tetapi juga di sekolah-sekolah dampingan KREASI Morotai. Ia percaya bahwa setiap guru memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan suportif. Dengan memperkuat kapasitas guru dan membangun kesadaran bersama, Salsa optimistis bahwa perubahan itu mungkin diwujudkan.

Bagi Salsa, menciptakan sekolah yang aman bukanlah sebuah idealisme yang jauh dari kenyataan. Perubahan dapat dimulai dari langkah kecil dari cara guru merespons perilaku anak, dari keberanian untuk tidak menormalisasi perundungan, hingga dari komitmen untuk terus belajar dan berbenah. Dari keresahan itulah tumbuh harapan, bahwa suatu hari nanti, setiap anak di Morotai benar-benar dapat belajar dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan penuh penghargaan. (PSI/Red)