03 April 2024 /
1197 Viewers

Desa Mbatapuhu Paska El Nino dan Sumber Pangan di Pekarangan Rumah

Desa Mbatapuhu, merupakan salah satu desa intervensi program Antisipasi Dampak Kekeringan yang disebabkan fenomena El Nino tahun 2023. Sebuah program kemanusiaan yang dilakukan oleh Perkumpulan Stimulant Institute Sumba melalui dukungan Save the Children Humanitarian program. El Nino telah memberi dampak buruk, diawali dengan hari tanpa hujan yang panjang (kekeringan), sampai memburuknya sumber penghidupan bagi sebagian besar penduduk.  Mencari iwi (ubi liar) di hutan, mandara, dan bantuan program sosial pemerintah merupakan beberapa cara warga Mbatapuhu mengatasi kesulitan yang ada. Terkini, melalui monitoring per 02 April 2024, bentang alam Desa Mbatapuhu sudah jauh berbeda dibandingkan delapan bulan silam (2023), ketika intervensi program pertama kali dijalankan. Sejauh mata memandang terlihat pada rumput sabana yang kecoklatan. Kecoklatan karena terpaan panasnya matahari karena kekeringan yang panjang. Namun, intensitas hujan yang mulai normal sejak Januari 2024, telah merubah bentang alam kecoklatan berganti dengan bentang alam padang rumput sabana nan hijau. Sebagian warga Desa sementara memanen jagung dari hasil musim tanam pertama, sementara sebagian lagi sudah selesai menanam jagung untuk musim tanam kedua. Menurut Kepala Desa dan Kepala Dusun setempat, panen jagung tahun ini terbilang bagus, kendatipun mengalami musim hujan yang lambat. Namun, apa yang terjadi di Desa Mbatapuhu tidak demikian dengan desa-desa tentangga seperti Desa Rambangaru maupun Desa Kadahang, mereka mengalami gagal panen karena curah hujan yang dianggap tidak cukup, mereka benar-benar belum pulih dari dampak El Nino. Oleh sebab itu, Desa Mbatahupu menjadi tujuan desa-desa tentangga untuk melakukan pertukaran sosial pangan dalam bentuk mandara.

Salah satu program intervensi yang cukup terpelihara saat ini adalah pemanfaatan air bersih untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga dan pertanian tanaman hortikultura menunjukkan sebuah prospek yang baik. Pemanfaatan air untuk pertanian tanaman hortikultura cukup optimal dan berkelanjutan, minimal untuk mememuhi kebutuhkan konsumsi rumah tangga. Ketika panen berlebih, ada juga rumah tangga yang menjualnya. Saat ini tidak kurang dari 10 kepala keluarga (KK) yang menjalankan pertanian hortikultura di pekarangan rumah mereka dengan luasan antara 0,5 – 1 are. Adapun budidaya tanaman hortikultura terdiri dari; bayam, bawang, kangkung, kamboja/bonca, lombok, pare, sayur putih, tomat, terong, selain itu pekarang mereka juga diselingi dengan tanaman pepaya dan singkong. Setiap hari selalu ada yang bisa dipanen untuk dikonsumsi sendiri maupun untuk dijual. Untuk memastikan air dan fasilitas pendukungnya tetap berjalan mereka telah membentuk komite air dengan iuran bulan Rp. 10.000 per KK terhadap 31 rumah tangga pengguna air. Iuran ini akan digunakan untuk membiayai pemeliharaan fasilitas maupun ada rencana perluasan jaringan perpipaan bagi rumah tangga yang belum mengakses air bersih. Sementara honor komite air sudah ditanggulangi oleh Desa melalui APBDesa.