28 Agustus 2025 /
144 Viewers

Join Monitoring KREASI: Menyatukan Pembelajaran dan Aksi untuk Pendidikan Morotai

Morotai, 28 Agustus 2025. Stimulant Institute bersama ekosistem pendidikan Morotai telah melaksanakan kegiatan join monitoring ke sekolah-sekolah dampingan program KREASI. Kegiatan ini melibatkan LPTK provinsi Maluku Utara; GTK, BPMP, dan Universitas Unkhair Ternate, DPRD, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Universitas Pasifik serta CSO, sebagai bentuk tindak lanjut terhadap rangkaian intervensi yang telah dijalankan di lapangan.

Hasil monitoring ini kemudian dipresentasikan dalam sebuah forum reflektif yang berlangsung pada 28 Agustus 2025, di Aula SMA Negeri 1 Pulau Morotai. Forum ini menghadirkan para kepala sekolah dampingan, Dinas Pendidikan, serta anggota DPRD Kabupaten Pulau Morotai. Tujuan utama forum ini adalah menggali kebutuhan nyata dari satuan pendidikan, mengidentifikasi dukungan lanjutan yang diperlukan, serta merumuskan strategi keberlanjutan program pasca intervensi KREASI. Forum ini juga menjadi ruang bersama untuk merefleksikan capaian, tantangan, serta pembelajaran yang telah diperoleh.

Dalam sesi diskusi, para kepala sekolah menyampaikan perubahan signifikan yang dirasakan sejak adanya program KREASI. Najir, salah satu kepala sekolah dampingan, menyampaikan bahwa pendekatan Identifikasi, Refleksi, dan Benahi (IRB) dalam memahami Rapor Pendidikan telah membuka perspektif baru bagi guru dan pimpinan sekolah.

Sekolah kami sebelumnya termasuk dalam kategori dengan capaian literasi dan numerasi terendah. Melalui KREASI, kami dibekali pelatihan, pendampingan, dan akses terhadap platform seperti Ruang GTK dan Rumah Pendidikan. Hasilnya, pada bulan Juni lalu, sekolah kami dinyatakan sebagai salah satu dari 10 sekolah dengan Rapor Pendidikan terbaik di Morotai. Ini menunjukkan bahwa dengan kemauan berubah dan komitmen menindaklanjuti intervensi, hasil nyata bisa dicapai,” ungkap Najir.

Didik, kepala sekolah lainnya, menekankan pentingnya dukungan pemerintah daerah untuk menjaga keberlanjutan program setelah KREASI tidak lagi mendampingi secara langsung.

“…Kami berharap ada alokasi khusus dari BOS Daerah (BOSDA) agar sekolah dapat melanjutkan program peningkatan mutu secara mandiri. Keberlanjutan tidak akan tercapai tanpa dukungan anggaran yang memadai,” tegasnya.

Anggota DPRD Kabupaten Pulau Morotai, Johor Boleu, yang hadir dalam forum, menyampaikan bahwa kegiatan monitoring bersama menjadi momentum penting bagi wakil rakyat untuk melihat langsung tantangan di lapangan.

“…join monitoring, membantu kami melihat kondisi nyata sekolah, minimnya tenaga pendidik, serta keterbatasan sarana prasarana yang masih perlu dibenahi. Aspirasi para kepala sekolah akan kami perjuangkan dalam pembahasan APBD mendatang,” ujarnya.

Forum diseminasi ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan pendidikan berkualitas. Program KREASI telah menunjukkan bahwa pendekatan berbasis data dan refleksi dapat menggerakkan perubahan nyata di sekolah. Namun, dampak tersebut tidak akan berkelanjutan tanpa komitmen dari seluruh pihak sekolah, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya.

Kegiatan ini menjadi titik refleksi dan ajakan untuk memperkuat sinergi. Bahwa transformasi pendidikan tidak cukup dengan intervensi jangka pendek, tetapi membutuhkan dukungan sistemik dan berkelanjutan. Dengan komitmen bersama, diharapkan capaian yang telah dirintis melalui KREASI dapat menjadi fondasi bagi pendidikan Morotai yang lebih adil, merata, dan bermutu demi masa depan generasi muda Morotai. (SI/Red)