14 Juni 2025 /
987 Viewers

Menumbuhkan Pengasuhan Tanpa Kekerasan untuk Anak-Anak Morotai

Morotai, 14 Juni 2025. Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak; ruang yang penuh cinta, perlindungan, dan rasa nyaman. Namun, kenyataannya tidak semua anak merasakan hal tersebut. Bagi sebagian, rumah justru menjadi tempat yang menimbulkan rasa takut dan meninggalkan luka baik secara fisik maupun emosional.

Menjawab tantangan ini, Stimulant Institute melalui program KREASI mengadakan Pelatihan Pengasuhan Tanpa Kekerasan di Tingkat Kabupaten Morotai. Kegiatan ini bertujuan menciptakan perubahan dari akar rumput, dengan menyiapkan sumber daya lokal sebagai mentor yang siap menyebarkan nilai-nilai pengasuhan positif kepada masyarakat.

Dari pelatihan menjadi transformasi diri. Selama lima hari pelatihan intensif, para peserta yang sebagian besar merupakan anggota PATBM mendapatkan bekal pengetahuan dan keterampilan untuk mendampingi orang tua menerapkan pola asuh tanpa kekerasan. Tidak hanya fokus pada peran orang tua, pelatihan ini juga membantu anak-anak mengenali hak mereka, memahami diri sendiri, dan membangun komunikasi yang sehat dengan lingkungan.

Dua peserta dari Desa Wawama, Miranti dan Firna, membagikan kisah transformasi mereka. Miranti mengaku pelatihan ini membuka cakrawala baru tentang cara membangun relasi dengan anak. “Saya jadi tahu bahwa mengasuh anak bisa dilakukan dengan cara yang positif, melalui komunikasi yang efektif dan tanpa kekerasan,” ujar Miranti.

Sementara itu, Firna, seorang ibu rumah tangga, mengakui bahwa pelatihan ini telah mengubah pendekatannya dalam membesarkan anak. “Dulu saya sering ngomel, tapi setelah mengikuti pelatihan ini, saya mulai mendekati anak dengan lebih sabar dan penuh empati,” ungkapnya.

Menggeser pola pikir, menguatkan budaya peduli anak. Pelatihan ini juga mengungkap kenyataan penting, sebagian besar masyarakat Morotai masih memandang pengasuhan sebagai tanggung jawab ibu semata. Peran ayah cenderung terbatas, dan pekerjaan domestik masih dianggap tugas perempuan. Temuan ini menjadi masukan penting bahwa perubahan tidak cukup hanya pada individu, melainkan perlu pendekatan yang sensitif terhadap nilai budaya dan struktur sosial setempat.

Stimulant Institute menekankan bahwa pengasuhan tanpa kekerasan bukan sekadar metode, melainkan proses membangun relasi yang sehat, berdaya, dan saling menghormati antara orang tua dan anak. Dengan menciptakan mentor lokal, program ini berharap akan lahir komunitas-komunitas yang mendukung tumbuh kembang anak secara utuh fisik, emosional, dan psikologis.

Menuju Morotai yang ramah anak. Miranti dan Firna kini tidak hanya membawa pulang ilmu, tetapi juga semangat untuk menyebarkan pengetahuan ini ke lingkungan mereka. Mereka berharap pemerintah daerah semakin memperkuat perlindungan anak melalui layanan kesehatan, pendidikan, keamanan, dan khususnya penyediaan layanan psikolog bagi anak korban kekerasan. “Semoga para orang tua di Morotai sadar bahwa kekerasan bukan cara mendidik. Itu justru menghambat tumbuh kembang dan pola pikir anak,” tutup Firna penuh harap.

Pelatihan ini menjadi langkah awal menuju Morotai yang lebih ramah anak dimulai dari perubahan cara pandang, lalu berkembang menjadi gerakan kolektif demi masa depan yang lebih cerah. (PSI/Red)