28 Juni 2025 /
518 Viewers

Pelatihan Disiplin Positif: Transformasi Pola Pikir Guru Menuju Pembelajaran Berbasis Empati

Morotai, 28 Juni 2025. Dalam upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung secara emosional, Stimulant Institute bekerja sama dengan Save the Children Indonesia melalui program KREASI menyelenggarakan Pelatihan Disiplin Positif di SD Negeri Unggulan 1 Morotai. Kegiatan yang berlangsung pada 24–28 Juni 2025 ini menyasar guru serta Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) agar memahami lebih dalam pendekatan pengelolaan kelas yang suportif dan ramah anak.

Selama pelatihan, peserta menggali keterkaitan antara kondisi emosional anak dan efektivitas proses pembelajaran. Fasilitator mendorong peserta untuk merefleksikan kembali cara mereka mendisiplinkan siswa serta mengenali pentingnya menciptakan suasana kelas yang bebas tekanan. Anak-anak belajar lebih baik ketika merasa aman dan nyaman dan guru memegang peran kunci dalam membangun lingkungan tersebut.

“Pelatihan ini membuka mata kami bahwa anak-anak membutuhkan pendampingan yang sabar, terutama saat mereka sedang beradaptasi dari PAUD ke SD,” ujar salah satu peserta. Guru ditantang untuk lebih peka terhadap kondisi emosional anak, termasuk ketika menghadapi siswa yang belum siap masuk kelas tanpa kehadiran orang tua. Pendekatan disiplin yang penuh empati dipandang sebagai solusi yang lebih efektif dibandingkan pemaksaan.

Refleksi para guru memperlihatkan transformasi pemahaman yang mendalam. Ewilda, guru dari Morotai Timur, menyatakan bahwa ia kini lebih menyadari tanggung jawab besarnya sebagai pendidik. “Saya baru sadar, menjadi guru tidak cukup hanya mengajar. Kita harus memahami tumbuh kembang anak dan bagaimana perasaan mereka memengaruhi belajar,” ungkapnya.

Senada dengan itu, Mulyani, guru dari Morotai Utara, mengaku mengalami perubahan pola pikir yang signifikan setelah mengikuti pelatihan. “Saya belajar bahwa berpikir positif tidak hanya penting bagi saya sebagai guru, tapi juga bagi anak-anak. Suasana kelas yang kondusif dimulai dari energi positif guru,” tuturnya.

Pelatihan ini juga memperkaya pemahaman guru tentang pembelajaran yang berpusat pada anak. Guru diajak mengenali minat, gaya belajar, serta kebutuhan emosional setiap siswa, lalu menyesuaikan strategi pembelajaran secara fleksibel. Sebagai tindak lanjut, Mulyani berkomitmen menerapkan sejumlah strategi baru di kelasnya. Ia akan, memberikan apresiasi kepada semua siswa tanpa diskriminasi, mengajarkan keterampilan mengelola emosi, lebih memahami perasaan siswa dalam berbagai situasi.

Pelatihan ini bukan sekadar menambah wawasan, tetapi juga mendorong perubahan cara pandang dan strategi praktis di ruang kelas. Para peserta menyadari bahwa kesejahteraan emosional siswa sangat bergantung pada kesiapan dan ketenangan emosi guru itu sendiri. Dengan menerapkan prinsip-prinsip Disiplin Positif, para guru di Morotai mulai membangun ruang belajar yang lebih ramah, inklusif, dan mendukung perkembangan karakter anak secara holistik. Program ini menjadi langkah awal yang penting untuk menciptakan budaya sekolah yang membebaskan anak dari tekanan emosional serta mengedepankan hubungan yang positif antara guru dan murid. (SI/Red)