15 April 2025 /
760 Viewers

Sumba Barat Daya Wujudkan Kecamatan Ramah Anak

Tambolaka, Sumba Barat Daya - 15 April 2025 - Stimulant Institute bersama Save the Children Indonesia bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Sumba Barat Daya, menggelar pertemuan koordinasi tingkat kecamatan. Kegiatan ini difasilitasi dan didukung langsung oleh Camat Kota Tambolaka dan melibatkan 54 peserta dari berbagai elemen, seperti perwakilan pemerintah desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, serta perwakilan dari enam desa intervensi.

Kepala Dinas DP3AP2KB, drh. Octavini T. S. Samani, dalam sambutannya menegaskan bahwa kehadiran Stimulant Institute menjadi dukungan penting dalam upaya Pemerintah Daerah untuk mewujudkan Kabupaten Layak Anak (KLA). “Hadirnya Stimulant Institute adalah bentuk dukungan terhadap pemerintah daerah dan juga Kecamatan Kota Tambolaka sebagai model dalam upaya pencegahan perkawinan anak dini dan paksa. Kami menjadi payung dalam isu perlindungan anak,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan bahwa saat ini UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) telah beroperasi, dan menghimbau masyarakat untuk aktif melaporkan kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan. “Kami mendorong masyarakat untuk segera melaporkan kejadian yang dialami oleh anak dan perempuan agar dapat segera ditangani,” tambahnya.

Sementara itu, Camat Kota Tambolaka, Bapak Charles Nd. Tondo, S.Kom, memaparkan situasi perlindungan anak di wilayahnya. Ia menyoroti bahwa peran pengasuhan anak selama ini masih dibebankan kepada perempuan, dan menekankan pentingnya pelibatan tokoh agama dalam menyuarakan isu perlindungan anak kepada masyarakat. “Kehadiran tokoh agama sangat penting sebagai penyambung informasi kepada masyarakat dalam kegiatan keagamaan. Saat ini, masyarakat lebih mengenal kekerasan seksual, padahal ada juga kekerasan emosional, psikologis, dan fisik yang sering terjadi namun dianggap biasa,” ungkapnya. “Kekerasan yang tidak disadari ini bisa berdampak besar terhadap tumbuh kembang anak, terutama kelompok perempuan.”

Perwakilan dari Stimulant Institute, Karolina Malo dan Meliana Patola, memfasilitasi dialog bersama peserta untuk menggali lebih dalam isu perlindungan anak. Hasil dialog menunjukkan bahwa kekerasan terhadap anak dan perempuan kerap dipicu oleh ketidaksiapan mental orang tua dan lemahnya dukungan komunitas yang tidak seimbang dengan perkembangan teknologi. Stimulant Institute akan bekerja sama dengan DP3AP2KB melalui bidang perlindungan anak untuk membentuk dan melatih Tim Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) di enam desa intervensi. “Kami hadir bukan untuk menyelesaikan seluruh masalah perlindungan anak, tetapi untuk mendorong kolaborasi semua pihak. Anak-anak berhak dilindungi dan didengar. Ini adalah kerja bersama kerja kita,” tegas Karolina menutup diskusi.

Sebagai tindak lanjut dari pertemuan ini, akan dilakukan pembentukan PATBM, pelatihan manajemen kasus, serta pendampingan dan pembinaan rutin di sekolah dan komunitas. Seluruh proses akan dilaksanakan secara partisipatif bersama satuan tugas (Satgas) TPPK Kabupaten, UPTD PPA, dan para pemerhati anak di wilayah setempat. (Red/SI)