08 Juli 2026 /
141 Viewers

Karya Anak Morotai Gugah Kemenag Halmahera Tengah, Program KREASI Diminta Berekspansi

Maluku Utara| Ternate, 8 Juli 2026. Sebuah pertemuan singkat di Festival GALATAMA II 2026 berubah menjadi momentum penting bagi program literasi anak di Maluku Utara. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Halmahera Tengah, Hasyim Hi. Hamzah, S.H., M.Si., terhenti di booth KREASI Morotai saat melihat buku-buku cerita yang ditulis langsung oleh anak-anak Pulau Morotai. Bagi Acim (sapaan), yang pernah bertugas di Morotai, karya itu adalah bukti nyata kemajuan pendidikan yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi secepat ini.

"Morotai banyak berubah! Jujur saya kaget, bangga, dan haru. Anak-anak Morotai bisa menghasilkan tulisan sebagus ini," ujarnya, seraya mengaku belum pernah menjumpai karya semacam itu sepanjang lebih dari empat tahun menjabat.

GALATAMA II 2026, digelar 6–8 Juli di Ternate dan dibuka Menteri Agama RI, diikuti 3.519 peserta dalam Gerakan Literasi Massal. Menteri Agama menegaskan literasi sebagai fondasi peradaban dan membuka peluang GALATAMA diangkat menjadi gerakan literasi nasional.

Pada ajang ini, MIN 2 Pulau Morotai berhasil meraih Juara I Pidato Bahasa Inggris, Juara I Pidato Bahasa Arab, dan Juara I Hifdzil Qur'an. Prestasi tersebut menjadi capaian membanggakan bagi sekolah yang merupakan dampingan Program KREASI pada tahun pertama pelaksanaannya. Selain itu, Kabupaten Pulau Morotai juga dianugerahi predikat Agen Literasi Terbaik sebagai hasil kolaborasi yang kuat antara ekosistem pendidikan daerah dan para kepala sekolah.

Kekaguman Acim berujung pada permintaan langsung agar program KREASI yang dijalankan Perkumpulan Stimulant Institute (PSI) bersama Save the Children Indonesia diperluas ke Halmahera Tengah. "Bagaimana caranya agar kami bisa mendapatkan program ini? Apakah saya harus bersurat resmi kepada Kementerian?" tanyanya berulang kali kepada perwakilan KREASI, Stimulant Institute, dan Save the Children, seraya menyebut wilayah tambang itu sangat membutuhkan jangkauan literasi bagi anak-anaknya.

Peristiwa ini menegaskan tiga hal bagi keberlanjutan KREASI: pertama, karya nyata anak adalah alat advokasi paling kuat, jauh lebih efektif daripada paparan data. Kedua, arahan Menteri Agama agar GALATAMA menjadi gerakan nasional membuka jendela kebijakan bagi KREASI untuk menjadi mitra strategis Kementerian Agama. Ketiga, permintaan dari Halmahera Tengah adalah peluang ekspansi nyata yang perlu ditindaklanjuti secara terstruktur, mengingat tantangan aksesibilitas di wilayah pertambangan tersebut.

Jejak KREASI di GALATAMA II bukan sekadar kebanggaan atas prestasi Morotai, melainkan titik awal perjalanan lebih panjang: bagaimana satu booth literasi mampu menggerakkan niat sebuah kabupaten untuk membangun masa depan anak-anaknya lewat kata dan cerita. (PSI/ Red)